NADIKABAR.COM — Dua kabar tentang santri melintas hampir bersamaan pekan-pekan ini, dan keduanya menarik bila dibaca berdampingan. Senin (19/10), dalam rapat koordinasi dengan Menteri Agama, Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menyebut mayoritas santri di pesantren berasal dari desil 1 sampai 4, lapisan rumah tangga paling bawah dalam peta kesejahteraan.
Sepekan sebelumnya, ruang publik diramaikan isu Universitas Indonesia memprioritaskan lulusan pesantren tanpa tes, yang dilontarkan seorang mantan dosen dalam sebuah podcast. Pihak kampus segera menepisnya: penerimaan mahasiswa diatur prinsip objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan, sedangkan klaim tersebut tidak bersandar pada bukti.
Dibaca bersamaan, dua kabar itu menyingkap sesuatu yang jarang disinggung di tengah kemeriahan Hari Santri. Santri, sebagian besar, adalah anak orang kecil. Ketika anak orang kecil berhasil menembus kampus paling bergengsi di negeri ini, yang lebih dulu muncul justru kecurigaan: jangan-jangan masuk lewat pintu belakang.
Padahal Hari Santri semestinya menjadi momentum merawat pesantren sebagai jalur mobilitas sosial yang paling tua dan paling murah bagi anak-anak dari keluarga termiskin. Jalur itu kini ditekan dari tiga arah sekaligus: direduksi menjadi pelatihan siap kerja, dicurigai ketika santri naik terlalu tinggi, dan dirusak dari dalam ketika pesantren gagal menjadi ruang aman.
Sejak lama pesantren menerima anak siapa saja, sering kali tanpa menanyakan kemampuan membayar. Yang tak sanggup membayar menebusnya dengan khidmah: membantu di ndalem, menggarap sawah kiai, menimba air untuk wudu jemaah. Dari jalan sederhana itu lahir guru ngaji, kiai kampung, hingga pejabat negara.
Otobiografi KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974), dibuka dengan potret masa kecil yang menyentuh. Jam dinding kala itu hanya dimiliki ndoro Guru, dan memiliki sepasang sepatu bahkan tak terjangkau angan-angan anak-anak sebayanya. Sepasang sepatu, barang sepele bagi banyak orang hari ini, ketika itu terlalu mewah untuk sekadar dimimpikan. Bab kedua buku itu berjudul "Madrasahku Cuma Langgar". Dari langgar dan pondok, anak yang tak berani bermimpi tentang sepatu itu kelak menjadi Menteri Agama Republik Indonesia. Mimpi semacam itulah yang hingga kini dirawat pesantren bagi anak-anak desil bawah: bukan sekadar sepasang sepatu, melainkan martabat yang diangkat oleh ilmu.
Skala peran itu hari ini tidak kecil. Dalam rapat yang sama, Menag Nasaruddin Umar menyebut ada sekitar 42.000 pondok pesantren di bawah Kementerian Agama. Bila mayoritas santrinya berasal dari desil bawah, pesantren adalah salah satu jaring pengaman pendidikan terbesar yang dibangun masyarakat sendiri, jauh sebelum negara menaruh perhatian.
Pierre Bourdieu, lewat gagasan tentang ragam modal, membantu menjelaskan mekanisme itu. Anak dari keluarga miskin datang ke pondok nyaris tanpa modal ekonomi. Selama mondok, yang terkumpul adalah modal budaya, berupa ilmu, kefasihan membaca kitab, adab, dan sanad keilmuan, serta modal sosial berupa jaringan kiai dan alumni.