Prasangka semacam ini penyakit lama, dan langit pernah menegurnya. QS 'Abasa ayat 1-10 turun ketika Nabi berpaling dari Ibnu Ummi Maktum, sahabat yang buta dan miskin, karena tengah berharap para pembesar Quraisy menerima Islam. Al-Qurthubi menyebut ayat itu 'itab min Allah li nabiyyih, teguran Allah kepada Nabi-Nya. Teguran itu diturunkan agar hati para ahl ash-shuffah, sahabat-sahabat papa yang tinggal di serambi masjid, tidak hancur, dan untuk menegaskan anna al-mu'min al-faqir khairun minal-ghani, mukmin yang fakir lebih baik daripada yang kaya.

Sesudahnya, Nabi selalu menyambut Ibnu Ummi Maktum dengan marhaban bi man 'atabani fihi rabbi, selamat datang wahai orang yang karenanya Tuhanku menegurku, bahkan dua kali mengangkatnya sebagai wakil di Madinah. Bagi kampus, cara terbaik mematahkan prasangka bukan sekadar membantah, melainkan membuka data jalur masuk secara terang sehingga prestasi santri berbicara sendiri.

Himpitan ketiga datang dari dalam, dan justru paling menyakitkan. Senin lalu Kemenag membekukan Pesantren Dar Et Tauhid Bekasi setelah seorang guru ditetapkan sebagai tersangka pencabulan terhadap sepuluh santriwati.

Syarat pembukaan kembali tegas: SOP antikekerasan, kanal aduan yang menjamin kerahasiaan pelapor, dan penataan asrama. Bagi santri desil bawah, mondok sering kali satu-satunya pilihan, bukan salah satu dari banyak pilihan.

Pindah sekolah bukan perkara mudah bagi keluarga yang serba terbatas. Karena itu, perlindungan menjadi kewajiban yang berlipat. Gus Dur pernah membaca pesantren sebagai subkultur yang daya hidupnya bersumber dari otonomi. Otonomi itu kehilangan maknanya bila berubah menjadi ketertutupan yang melindungi pelaku.

Barangkali ada yang menilai semua ini terlalu idealis, sebab anak miskin memang butuh kerja secepatnya. Benar, dan tidak ada yang salah dengan keterampilan. Hanya saja, jalan naik yang dipotong sejak langkah pertama tidak lagi mengantar ke mana-mana.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 digerakkan oleh para kiai, dan dijalankan oleh ribuan santri yang sebagian besar adalah anak-anak desa bersarung, tanpa sepatu. Negeri ini berutang kepada anak-anak itu. Hari Santri adalah saat yang tepat untuk mencicil utang tersebut dengan menjaga jalan yang telah mengangkat begitu banyak anak bangsa: tidak dipangkas, tidak dicurigai, dan tidak dirusak dari dalam.

Imam Taufiq. Guru Besar UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang.