NADIKABAR.COM — Pemerintah diminta mencermati serius ancaman MSCI yang membuka peluang menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Ini dianggap sebagai sinyal tergerusnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai MSCI tidak akan tunduk pada negara manapun lantaran lembaga penyedia indeks saham global itu bergerak atas dasar kepercayaan. Menurutnya, MSCI hanya akan patuh terhadap tolok ukur yang mereka tetapkan sendiri.
"MSCI bukan IMF, lembaga internasional yang dulu mempunyai agenda ekonomi tertentu dan bisa dipengaruhi kepentingan politik pemerintah tertentu, dan sering juga menimbulkan protes amarah rakyat. MSCI itu organisasi non-pemerintah yang netral, independen, dan tidak berkepentingan. Dan karena itu MSCI menjadi acuan utama bagi para investor global," ungkap Dino dalam unggahan resmi Instagram @dinopattidjalal, Sabtu (24/11/2026).
Dino menjelaskan, bobot Indonesia di indeks MSCI saat ini anjlok menjadi sekitar 0,3% dari sebelumnya 2,6%. Posisi tersebut jauh tertinggal dari China, di mana bobot dalam indeks MSCI tercatat sekitar 20%, India 11%, Korea Selatan 18%, Brazil 4,8%, Meksiko 1,7%, Uni Emirat Arab 1,27%, dan Afrika Selatan 3%.
Menurutnya, perbedaan bobot tersebut bukan disebabkan konspirasi atau agenda politik tertentu, melainkan hasil penilaian profesional berdasarkan kriteria yang berlaku secara merata bagi seluruh negara.
"Tidak ada konspirasi, hanya ada penilaian yang profesional dan merata kriterianya bagi semua," jelasnya.