Upaya pencetakan pemimpin yang berkelanjutan ini juga diperkuat oleh kehadiran sosok-sosok berpengaruh di Indonesia yang bertindak sebagai super mentor, salah satunya adalah Menteri Luar Negeri (Menlu) RI periode 2014-2019 dan periode 2019-2024 Retno Marsudi.

Retno menyatakan sengaja mengambil bagian dalam program ini sebagai langkah kecil untuk menutup kesenjangan gender yang ditemukan di level pimpinan tidak hanya di Indonesia tapi juga masih banyak ditemukan di tingkat global.

Dalam acara kelulusan ini, Retno memberikan pandangan strategis mengenai tantangan struktural yang masih menghambat perempuan, sekaligus membekali para peserta agar tangguh dalam mendobrak sistem yang belum sepenuhnya setara.

Retno memaparkan realitas global melalui data dari laporan World Economic Forum (WEF) di 2026 bertajuk "Global Gender Gap" dan menyebut dalam pemberdayaan di sektor politik ternyata kesenjangan antara perempuan dan laki-laki begitu besar hingga 77,9 persen. Baru sebanyak 22,1 persen perempuan yang dapat diberdayakan di sektor politik.

Data lain dari UN Women dan UN DESA 2026 memprediksi dunia masih membutuhkan waktu sekitar 63 tahun untuk mencapai kesetaraan gender di Parlemen Nasional. Padahal sektor politik merupakan sektor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis.