Menurut Sugeng, kelangkaan beras premium dan lonjakan harga lantaran faktor cuaca ekstrem. Tak hanya itu, puncak panen beras dalam setahun itu terjadi saat Maret-April yang disebut stok beras melimpah.

"Kita lihat di beberapa tempat memang ada pengaruhnya, karena puncak musim panen itu kan dalam satu tahun di bulan Maret-April. Kalau bulan sekarang, memang tidak sebanyak di bulan April dan Maret. Itu tetap ada pengaruhnya," tutup dia.

Sementara itu, pedagang sembako di Pasar Pucang Eka Ariska mengakui adanya kenaikan harga pada beras premium dan gula premium. Begitu juga dengan minyak non subsidi.

"Minyak goreng merek Minyakita subsidi dijual Rp 17.400 per liter, sementara minyak goreng non-subsidi tembus di atas Rp 20 ribu per liter. Harga beras premium dan gula premium naik sekitar Rp 2.500 per kilogram," ungkap Eka.

Dalam sidak tersebut, petugas gabungan memeriksa ketersediaan dan harga berbagai komoditas strategis meliputi beras, gula, minyak goreng, tepung, telur, hingga daging. Satgas berkoordinasi dengan para dinas untuk memastikan data pasokan dan harga secara akurat. Meski stok dinilai aman, keluhan kenaikan harga tetap muncul dari pelaku usaha. Namun, Satgas mencatat suplai dari Bulog tetap berjalan normal dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Terkait adanya selisih harga di atas HET, dinilai menjadi catatan penting yang akan ditindaklanjuti dalam penyelidikan kepolisian.