"Kemudian di masa transisi, Bapak Presiden kemudian membuat Satgas di mana Ketua Tim Pengarahnya adalah Menko PMK, anggotanya semua Menko, ditambah Kapolri, Panglima TNI, Menteri Keuangan," ujarnya.

Memasuki tahap pemulihan, sebagian besar aktivitas pemerintahan di wilayah terdampak bencana mulai kembali berjalan. Kabupaten Aceh Tamiang, yang sebelumnya mengalami gangguan berat, juga berangsur pulih.

Sejumlah layanan dasar, seperti pasokan listrik, bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan internet, relatif kembali normal. Rumah sakit umum dan puskesmas pun telah beroperasi. Meski demikian, masih terdapat enam puskesmas pembantu di Sumatera Utara yang rusak atau hilang akibat bencana dan memerlukan penanganan lebih lanjut.

Pemulihan juga berlangsung di sektor pendidikan. Dari total 4.922 satuan pendidikan yang terdampak bencana, sebanyak 99 sekolah masih menjalankan kegiatan belajar-mengajar di kelas darurat.

Penanganan sekolah-sekolah tersebut menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta TNI Angkatan Darat (AD).

Tito turut mengapresiasi keterlibatan TNI AD dan Polri dalam membangun kembali jembatan yang rusak akibat bencana. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk memulihkan konektivitas dan mendukung aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

"Kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada rekan-rekan TNI AD yang memiliki satgas jembatan, itu ratusan jembatan yang sudah terbangun oleh TNI AD. Dari kepolisian juga lebih dari 100 saya kalau tidak salah lebih kurang 120an yang dibangun oleh Polri untuk jembatan," tuturnya.