Kode tersebut sempat menimbulkan kebingungan karena ketika dipindai melalui aplikasi perbankan, pengguna diarahkan ke halaman pembayaran yang terhubung dengan bank asal Tiongkok. Sementara itu, hasil pemindaian menggunakan Google Lens mengarah ke halaman pengunduhan aplikasi Si-Boyo di Google Play Store.
Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya menjelaskan bahwa stiker tersebut merupakan media sosialisasi Si-Boyo, platform belanja digital yang mengintegrasikan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dan UMKM, bukan kode pembayaran QRIS. Pemerintah kota kemudian menyatakan akan mengevaluasi dan memeriksa kembali kode QR yang telah terpasang.
Peristiwa tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar salah mengenali sebuah kode. Ketika berbagai aktivitas berpindah ke ranah digital, masyarakat tidak cukup hanya diajari cara menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memahami cara memeriksa, membedakan, dan memastikan bahwa teknologi itu bekerja sesuai tujuan.
Salah satu sumber kerawanan dalam transaksi digital adalah anggapan bahwa setiap kode QR merupakan sarana pembayaran. Padahal, kode QR merupakan bentuk penyajian informasi yang dapat mengarahkan pengguna ke berbagai tujuan, mulai dari halaman situs, pengunduhan aplikasi, informasi produk, hingga layanan pembayaran.