NADIKABAR.COM — Sorak penonton dan tepuk tangan silih berganti terdengar di Nagoya City Mizuho Park Athletic Stadium, Jepang, Minggu (18/10) malam.
Satu per satu kontingen peserta Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 memasuki stadion. Di bawah sorotan lampu, para atlet melambaikan tangan ke arah tribun. Sebagian mengabadikan suasana dengan telepon genggam, sementara penonton terus memberikan sambutan kepada kontingen yang melintas.
Di tengah kemeriahan itu, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel pewarta ANTARA yang meliput rangkaian defile.
Panggilan tersebut datang dari Natalia Tjahja. Dari seberang sambungan, perempuan asal Indonesia itu dengan antusias mengabarkan bahwa lagu ciptaannya akan segera diperdengarkan dalam rangkaian upacara pembukaan.
Tak lama berselang, alunan anthem Asian Paralympic Committee (APC) terdengar di stadion, menjadi bagian dari seremoni yang mempertemukan ribuan atlet dan ofisial dari 45 negara dan wilayah Asia.
Di tengah kemegahan panggung internasional tersebut, terselip sebuah karya anak bangsa.
Dialah Natalia Tjahja, perempuan yang pada 2023 mendapat kepercayaan menciptakan anthem APC bersama musisi Indonesia Dwiki Dharmawan.
Lagu tersebut hanya berdurasi satu setengah menit. Namun, bagi Natalia, proses penciptaannya tidak sesederhana durasi yang terdengar.
"Dalam 1,5 menit saya harus menyatukan dua hal," kata Natalia ketika menceritakan kembali proses penciptaan lagu tersebut.
Dua hal yang dimaksud adalah menghadirkan komposisi musik yang menyentuh hati sekaligus menggambarkan semangat Asia dengan segala keberagamannya.
Natalia ingin setiap nada yang tercipta mampu menyampaikan pesan persaudaraan, persatuan, dan harapan kepada atlet penyandang disabilitas dari berbagai negara.
Hasilnya pertama kali diperdengarkan pada upacara pembukaan Asian Para Games Hangzhou 2022 yang diselenggarakan pada Oktober 2023 di China, mengiringi pengibaran bendera APC.
Bagi Natalia, kepercayaan tersebut memiliki arti tersendiri. Ia bahkan tidak menerima bayaran dan menyerahkan royalti lagu kepada APC sebagai kontribusinya terhadap perkembangan olahraga para.
Tiga tahun berselang, karya tersebut kembali mengalun di Nagoya, ketika Jepang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Asian Para Games.