Dalam peluncuran itu, SBY membagikan ceritanya mengenai proses kreatif yang mempertemukan pengalaman pribadi, imajinasi, serta perenungannya tentang cinta dan kehilangan.
Melalui kisah yang ditulisnya, SBY membuka ruang bagi pembaca untuk memahami bahwa melanjutkan kehidupan dapat berjalan beriringan dengan menjaga kenangan akan orang yang dicintai.
"Saya bukan mualaf tentara, politisi menjadi seniman. Tetapi seni itu masa lalu saya. Yang betul adalah the return of the lost artist. Kembalinya seniman setelah mengembara ke mana-mana," katanya.
Kedekatannya dengan dunia tulis-menulis, menurut SBY, telah tumbuh sejak bangku sekolah dasar. Ia pun mengatakan menulis novel merupakan kelanjutan dari kegemaran yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.
SBY merasa novel memberikannya kebebasan membangun alur, menghadirkan tokoh dengan beragam karakter, serta mempertemukan kenyataan dengan imajinasi.