NADIKABAR.COM β Sebanyak 5.729,33 hektare (ha) tambak dan kolam budi daya ikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali beroperasi hingga Oktober 2026, setelah rusak terdampak bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera akhir tahun lalu.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemulihan tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat, sekaligus mengembalikan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir terdampak bencana.
βPrioritas kami adalah mempercepat pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalankan usaha dan aktivitas ekonominya,β ujar Trenggono dalam keterangan resmi, di Jakarta, Selasa.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bencana di tiga provinsi tersebut berdampak pada 2.742 nelayan, 16.023 pembudidaya ikan, 364 unit pengolah ikan, serta 1.095 petambak garam.
Kerusakan juga mencakup 2.041 sarana penangkapan ikan, 31.248 ha lahan tambak dan kolam beserta prasarana pendukung, serta 2.053 unit keramba.
Selain itu, kawasan tambak garam di enam kabupaten/kota turut terdampak.
Untuk membantu nelayan kembali melaut, KKP telah menyalurkan 129 unit mesin kapal penangkap ikan dan 302 paket alat penangkapan ikan.
Bantuan tersebut ditujukan untuk memulihkan sarana usaha yang dibutuhkan nelayan dalam menjalankan kembali kegiatan penangkapan ikan.
Sementara itu, bagi pelaku usaha pengolahan hasil perikanan, KKP menyalurkan 366 unit coolbox dan paket peralatan pengolahan untuk mendukung penanganan hasil tangkapan serta pemulihan kegiatan produksi.
Trenggono mengatakan pemulihan harus menjangkau seluruh mata rantai usaha, mulai dari penangkapan dan budi daya hingga pengolahan hasil perikanan dan produksi garam.
Di sektor garam, KKP merehabilitasi 506 dapur perebusan garam yang tersebar di lima kabupaten di Aceh.
KKP menyatakan upaya rehabilitasi terus dilakukan agar sarana usaha yang terdampak dapat kembali berfungsi dan masyarakat kelautan serta perikanan dapat melanjutkan kegiatan ekonominya.