NADIKABAR.COM — Sebelum peluit terakhir wasit, sepak bola selalu menyisakan kemungkinan. Kamis malam, 1 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), kemungkinan itu menjelma menjadi sembilan gol, di mana kecemasan dan kegembiraan datang nyaris bersamaan.
Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2 dan merebut tiket final FIFA ASEAN Cup. Namun, siapa yang mengikuti pertandingannya tahu: ini bukan pesta yang sejak awal bisa dinikmati secara relaks berleha-leha. Tidak.
Ada saat ketika kemenangan besar pun terasa tidak cukup. Dari tribun hingga ruang-ruang teve keluarga, dari layar televisi, nobar hingga telepon genggam, publik mengikuti pertandingan yang meminta satu hal paling gregetan: tetap percaya padahal waktu hampir habis.
Pada jam yang sama, Malaysia menghadapi Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Di mata saya, suasananya terasa berbeda: pertandingan yang semestinya sarat tekanan justru tampak jauh lebih longgar.