Padahal, Singapura masih punya kepentingan nyata. Kemenangan akan membawanya melampaui Malaysia dan membuka jalan ke pertandingan perebutan tempat ketiga. Ada kesempatan berprestasi, rivalitas bertetangga, dan martabat tim nasional yang dipertaruhkan.

Karena itu, kekalahan 0–6 mengusik saya. Bagaimana pertahanan Singapura yang dikenal kokoh tapi kok bisa begitu mudah ditembus dalam pertandingan sepenting ini? Pertanyaan itu pantas diajukan, meskipun kesan seorang penonton belum merupakan bukti pengaturan pertandingan. Saya tidak bilang sepak bola gajah. Apalagi main sabun. Tidak. Saya hanya curiga, boleh dong..

Keraguan tersebut mempunyai pembanding konkret. Pada 8 Agustus, Singapura menahan Indonesia 1-1 sekaligus menyingkirkan Garuda dari ASEAN Hyundai Cup. Sepuluh hari kemudian, mereka bahkan menang 2-1 atas Thailand di Bangkok pada leg kedua semifinal, meskipun tetap tersingkir dengan agregat 3-4.

Tim yang belum lama menunjukkan ketahanan seperti itu kini kebobolan enam kali tanpa balasan. Perubahan tersebut layak dijelaskan: apakah karena mutu lawan, komposisi pemain, kelelahan, keputusan taktis, atau runtuhnya mental setelah tertinggal?