NADIKABAR.COM — Gunung Semeru tidak hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, tetapi juga menyimpan berbagai legenda dan cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat. Keindahan Ranu Kumbolo, jalur pendakian yang menantang, hingga puncak Mahameru membuat gunung ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki.
Namun, di balik pesona alamnya, Gunung Semeru juga lekat dengan sejumlah mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Ceritanya beragam, mulai dari kepercayaan tentang tempat bersemayamnya para dewa, sosok penjaga danau, hingga kisah tanjakan yang konon berkaitan dengan perjalanan asmara.
Sebagian cerita tersebut masih dipercaya oleh masyarakat dan menjadi bagian dari budaya lokal. Berikut sederet mitos legendaris yang terdapat di Gunung Semeru.
Salah satu legenda paling terkenal menyebutkan bahwa Gunung Semeru merupakan tempat bersemayamnya Dewa Siwa. Kepercayaan ini berkaitan dengan tradisi Hindu yang memandang gunung sebagai tempat suci dan penghubung antara dunia manusia dengan alam para dewa.
Dalam cerita kuno, Gunung Semeru berasal dari Gunung Mahameru di India yang dipindahkan oleh para dewa ke Pulau Jawa. Legenda tersebut juga menjadi salah satu dasar kepercayaan masyarakat bahwa Semeru memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
2. Gunung Semeru sebagai paku Pulau Jawa
Masih berkaitan dengan legenda Mahameru, terdapat cerita bahwa Pulau Jawa dahulu berada dalam kondisi tidak stabil dan terombang-ambing di lautan.
Para dewa kemudian memindahkan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk menjadikannya sebagai paku bumi agar pulau tersebut tidak lagi bergerak. Gunung Semeru dipercaya sebagai bagian utama dari Mahameru yang akhirnya ditempatkan di wilayah timur Pulau Jawa.
Ranu Kumbolo menjadi salah satu lokasi favorit pendaki ketika menjelajahi Gunung Semeru. Namun, danau ini juga memiliki mitos mengenai keberadaan ikan mas yang dipercaya sebagai penjaga kawasan tersebut.
Sebagian masyarakat meyakini ikan mas yang hidup di danau merupakan makhluk istimewa atau jelmaan sosok gaib. Karena itu, pendaki dipercaya tidak boleh menangkap, memancing, maupun mengganggu ikan-ikan tersebut.