Usai mendapat penanganan awal di lapangan, Sampurna langsung dievakuasi menuju Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk menjalani pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk pemindaian paru-paru dan organ dalam.
Penyelamatan Sampurna menambah daftar panjang satwa langka yang menjadi korban karhutla di Kalimantan Barat. Hingga akhir Agustus 2026, tim YIARI dan BKSDA tercatat telah menyelamatkan tujuh ekor orang utan yang terdampak bencana kebakaran hutan.
Pihak YIARI mengingatkan pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga mempersiapkan mitigasi dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat, kelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Jika kondisi kesehatannya telah pulih total dan fungsi organ dalamnya dinyatakan stabil, Sampurna rencananya akan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di alam liar.