Konon, dusun tersebut pertama kali dihuni oleh Hameratu Masangaji pada tahun 1907. Ia datang dengan tujuan mencari ketenangan jiwa dan meditasi agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik, sehingga menemukan kedamaian dan ketenangan spiritual.
Suku Sasak sendiri merupakan penduduk asli dan mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hingga saat ini, tercatat terdapat 700 jiwa penghuni Desa Sade yang tinggal di lahan seluas 5,5 hektar.
Suku Sasak menyebut rumah dengan sebutan bale. Terdapat tujuh jenis bale di Dusun Sade yaitu Bale Tani, Kodong, Jajar, Bonter, Lumbung, Berugaq Sekepat, dan Berugaq Sekenam.
Bale Kodong merupakan hunian versi lebih kecil dari Bale Tani, yang biasanya diperuntukkan bagi keluarga yang sudah memiliki keturunan. Sedangkan, bale Jajar merupakan rumah untuk keluarga dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi.
Sebagai gambaran, struktur bale Tani, yang merupakan bentuk paling banyak, berbentuk limas dan terdiri dari beberapa ruangan yang sederhana. Biasanya pada bale Tani memiliki 3 anak tangga yang memisahkan ruang tamu dan kamar. Pintunya disebut Lawang Kuri yang artinya sempit dan rendah.
Selain rumahnya yang memiliki denah sederhana, Sade juga terkenal dengan tenunnya yang digunakan sejak awal desa ini berdiri. Konon, dahulu kain tenun ini digunakan untuk menutup aurat hingga beribadah, sehubung dengan mayoritas penduduknya yang beragama islam.