Tenun Sade pada awalnya hanya berupa benang berwarna hitam. Pengembangan pertama mengenai motif pada kain tenun adalah saat seorang penduduk mendapat petunjuk melalui mimpi untuk membuat tenun motif lurik (garis).
Ada pula kain tenun Umbak, yang dipercaya untuk menggendong anak kecil agar tidak cengeng. Tenun ini dibuat setiap hari sabtu selama upacara Mosan yang berlangsung selama tiga minggu.
Setelah kain dengan motif lurik dirasa belum sempurna, inspirasi datang dari kain tenun daerah lain yang dipasarkan di Dusun Sade. Hasilnya lahir tujuh jenis motif kain dengan makna yang berbeda-beda dan digunakan hingga saat ini.
Terdapat tradisi pada suku Sasak mengenai anak perempuan dan kemampuan menenun. Apabila perempuan Sasak belum bisa menenun, maka belum bisa dinikahkan karena perempuan tersebut dianggap belum baligh.
Sejak 1975, Dusun Sade telah dikunjungi oleh wisatawan nasional dan mancanegara hingga pada 1989 ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan SK Gubernur NTB No. 2 tahun 1989 tentang Penetapan 15 Kawasan Pariwisata.
dihimpun dari keterangan resmi, data terkini mengungkapkan 75 unit rumah dan 69 art shop (toko seni) hangus. Balai desa, gerbang adat, dan satu unit lumbung juga turut habis terbakar.