NADIKABAR.COM — Dusun Sade merupakan kampung adat dan secara administratif berada di wilayah Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kampung ini didiami suku asli Lombok yang dikenal dengan nama suku Sasak.
Sabtu lalu (22/08/2026), kampung penjaga tradisi suku Sasak tersebut dilanda kebakaran hebat yang menghanguskan puluhan rumah adat. Kebakaran terjadi sekitar pukul 22.05 WITA dan diduga penyebabnya adalah korsleting listrik dari sebuah rumah warga.
kondisi bangunan di kawasan Kampung Adat Sade yang menggunakan ilalang sebagai atapnya serta anyaman sebagai dindingnya, turut berkontribusi terhadap cepatnya api membesar.
Meski api telah melahap Dusun Sade, warisan sejarah suku Sasak tetap hidup dalam tradisi masyarakatnya.
Dikutip dari video Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lombok Tengah, Kepala Dusun Sade Kurdap Selake menyatakan hingga kini belum ada bukti-bukti fisik seperti naskah tertulis tentang sejarah Sade. Menurutnya, masyarakat hanya mengenal tradisi lisan yang diceritakan secara turun temurun.
Ia menerangkan kata Sade diambil dari bahasa Sanskerta, hudase atau husada yang bisa diartikan obat. Namun, bukan berarti di kawasan tersebut banyak ditemukan tanaman obat.
Menurut Kurdap, husade itu hal-hal yang berkaitan dengan ketenangan jiwa, batin, rohani, dan lain sebagainya. Wilayah tersebut dikenal sebagai tempat para leluhur melakukan semedi sebagai bentuk penyerahan diri pada yang Maha Kuasa.
Konon, dusun tersebut pertama kali dihuni oleh Hameratu Masangaji pada tahun 1907. Ia datang dengan tujuan mencari ketenangan jiwa dan meditasi agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik, sehingga menemukan kedamaian dan ketenangan spiritual.
Suku Sasak sendiri merupakan penduduk asli dan mayoritas di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hingga saat ini, tercatat terdapat 700 jiwa penghuni Desa Sade yang tinggal di lahan seluas 5,5 hektar.
Suku Sasak menyebut rumah dengan sebutan bale. Terdapat tujuh jenis bale di Dusun Sade yaitu Bale Tani, Kodong, Jajar, Bonter, Lumbung, Berugaq Sekepat, dan Berugaq Sekenam.
Bale Kodong merupakan hunian versi lebih kecil dari Bale Tani, yang biasanya diperuntukkan bagi keluarga yang sudah memiliki keturunan. Sedangkan, bale Jajar merupakan rumah untuk keluarga dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi.
Sebagai gambaran, struktur bale Tani, yang merupakan bentuk paling banyak, berbentuk limas dan terdiri dari beberapa ruangan yang sederhana. Biasanya pada bale Tani memiliki 3 anak tangga yang memisahkan ruang tamu dan kamar. Pintunya disebut Lawang Kuri yang artinya sempit dan rendah.
Selain rumahnya yang memiliki denah sederhana, Sade juga terkenal dengan tenunnya yang digunakan sejak awal desa ini berdiri. Konon, dahulu kain tenun ini digunakan untuk menutup aurat hingga beribadah, sehubung dengan mayoritas penduduknya yang beragama islam.
Tenun Sade pada awalnya hanya berupa benang berwarna hitam. Pengembangan pertama mengenai motif pada kain tenun adalah saat seorang penduduk mendapat petunjuk melalui mimpi untuk membuat tenun motif lurik (garis).
Ada pula kain tenun Umbak, yang dipercaya untuk menggendong anak kecil agar tidak cengeng. Tenun ini dibuat setiap hari sabtu selama upacara Mosan yang berlangsung selama tiga minggu.
Setelah kain dengan motif lurik dirasa belum sempurna, inspirasi datang dari kain tenun daerah lain yang dipasarkan di Dusun Sade. Hasilnya lahir tujuh jenis motif kain dengan makna yang berbeda-beda dan digunakan hingga saat ini.
Terdapat tradisi pada suku Sasak mengenai anak perempuan dan kemampuan menenun. Apabila perempuan Sasak belum bisa menenun, maka belum bisa dinikahkan karena perempuan tersebut dianggap belum baligh.
Sejak 1975, Dusun Sade telah dikunjungi oleh wisatawan nasional dan mancanegara hingga pada 1989 ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan SK Gubernur NTB No. 2 tahun 1989 tentang Penetapan 15 Kawasan Pariwisata.
dihimpun dari keterangan resmi, data terkini mengungkapkan 75 unit rumah dan 69 art shop (toko seni) hangus. Balai desa, gerbang adat, dan satu unit lumbung juga turut habis terbakar.