Meskipun jauh dari Matahari, gletser tersebut tetap bisa meleleh akibat panas di Pluto, yang utamanya berasal dari inti planet itu sendiri. Selain itu, bagian utara gletser terus-menerus kehilangan es karena sublimasi, proses penguapan es menjadi gas.
Es yang menipis ini memiliki tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan es pada sisi lain Pluto, sehingga kristal es baru yang lebih keras akan muncul di bawah permukaan. Hal ini kemudian berpengaruh dengan aliran di permukaan gletser.
Normalnya, gerakan gletser ini berfungsi membawa panas dari dasar lalu naik ke atas dan dilepas ke permukaan. Alirannya akan melambat karena semakin kaku, sehingga panas dari inti planet akan terjebak. Panas ini kemudian menumpuk di dasar gletser dan menyebabkan naiknya suhu yang cukup tinggi sampai melewati titik leleh nitrogen.
Di Pluto, nitrogen cair memiliki berat yang kurang lebih 11 persen lebih ringan dari pada bentuk esnya, sehingga lelehan di dasar gletser akan naik ke permukaan melalui celah-celah es.
Namun, nitrogen ini bukan seperti mata air yang terus mengalir melainkan seperti kumpulan cairan yang kemudian dapat menekan lapisan di atasnya. Begitu memecah celah di kemiringan satu derajat, alirannya dapat menempuh lebih dari 0,8 kilometer dan membeku setelah sekitar 20 jam.