Pemodelan yang dilakukan para ahli menunjukkan, ada celah tersempit dari gletser yang tetap terbuka sebesar 6 inci (15 sentimeter) untuk cairan encer, atau sekitar 3 kaki (1 meter) untuk campuran semi-padat. Adapun kecepatannya, dari dasar hingga mencapai permukaan gletser, diperkirakan dapat mencapai satu kilometer dengan waktu 1-7 menit.
Peristiwa inilah yang menyebabkan permukaan gletser di Pluto memiliki perbedaan warna. Nitrogen cair yang berhenti bergerak akan mendiami celah es dan berwarna lebih gelap dibandingkan dengan es di sekitarnya.
"Pluto tidak pernah berhenti mengejutkan kita," kata Alan Stern.
Sejauh ini, temuan oleh Alan Stern dkk baru berasal dari sebagian kecil wilayah Pluto yang berhasil dipetakan lewat foto jepretannya. Para peneliti menyadari, bahkan tempat sedingin Pluto masih 'hidup' secara geologis.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com.