NADIKABAR.COM — Kasus keracunan menu Makan Berfizi Gratis (MBG), yang dialami siswa terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyoroti terkait volume dan kapasitas SPPG.
Sumarno mengatakan, bahwa di setiap dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah ada pengelolanya. Juga ada ahli gizinya. Kasus keracunan yang muncul tersebut, harusnya pengelola melakukan asesmen dengan baik.
"Tentu saja di MBG itu kan sudah ada mereka yang ada di sana. Ada pengelolanya, ada ahli gizinya. Lha inilah yang tentu saja harusnya mereka bisa mengasesmen dengan baik," kata Sekda Provinsi Jateng, Sumarno, kepada para wartawan disela-sela kegiatan Frienship Run di Alun-alun Kidul Boyolali, Minggu (30/8/2026).
Sumarno mengemukakan, sebelumnya dirinya pernah menyampaikan terkait dengan MBG ini adalah masalah volume atau kapasitas. Menurut dia, kapasitas ini lah yang seharusnya benar-benar diukur. Volume ini tidak hanya masalah jumlah porsi yang dimasak. Namun juga jarak tempuh ke titik distribusi penerima manfaat.
"Inilah yang mungkin ini Pak Kepala BGN, Pak Daryono kayaknya juga lagi membangun untuk tata kelola yang lebih baik. Kebetulan salah satu deputinya adalah teman saya dulu dari BPKP. Saya juga sering berdiskusi untuk perbaikan tata kelola ini," ujar dia.
"Karena sebetulnya kan ini harusnya kan ada peta ya, untuk wilayah segini, ada titik di sini. Karena mungkin dengan kapasitas 3.000 sampai 3.500 (porsi) itu cukup besar ya. Kalau bukan punya pengalaman catering itu mungkin agak berat ya. Sehingga itu tentu saja dengan mengejar waktu itu, kadang asesmennya agak kurang ya," lanjut dia.
Sumarno juga mengemukakan, Pemprov Jateng pernah mengusulkan agar penyaluran MBG ini melibatkan kantin sekolah. Hal ini karena di Jawa Tengah sudah ada program kantin sehat yang bekerja sama dengan BPOM.
"Sehingga tentu saja kalau di sekolah itu volumenya hanya di sekolah, bahkan para guru pun bisa mengawasi. Bahkan mungkin orang tua murid pun bisa, komite sekolah bisa ngawasi, sehingga tentu lebih baik. Tapi secara konsep itu mungkin dianggap terlalu kecil," jelasnya.
Dari sejumlah kasus keracunan MBG tersebut, pihaknya memberikan saran terkait dengan volume ini bisa menjadi catatan. Pihaknya membandingkan, di Boyolali jika ada warga yang mantu (menikahkan anak), dengan tamu 1.500 orang, maka yang bergotong-royong memasak bisa warga satu desa.