"Kalau saran kami dari kejadian-kejadian itu (keracunan) mungkin masalah volume ini menjadi catatan. Mungkin kita, kalau saya di Boyolali itu ya kalau orang mantu dengan tamu 1.500, itu yang rewang itu sak desa (satu desa) rewang semua itu, ikut masak. Itu pembanding lah," paparnya.
Lebih lanjut Sumarno mengatakan, evaluasi terkait volume hingga jarak distribusi ini penting. Karena dari hasil tes laboratorium kasus keracunan MBG yang terjadi, bakteri yang ditemukan pada menu tersebut muncul karena jarak dari waktu sejak disiapkan, dimasak sampai disajikan.
"Karena kejadian-kejadian kemarin kita dari lab itu kan bakteri, ada yang ditemukan bakteri dan sebagainya itu, muncul karena dari jarak, dari waktu sejak disiapkan, sejak dimasak sampai disajikan, sehingga sudah muncul-muncul bakteri. Berarti kan bicara masalah volume," tandas Sumarno.
Diberitakan sebelumnya, dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Boyolali. Dialami oleh seratusan siswa SMP Negeri 6 dan SMP Negeri 2 Boyolali.
"Untuk yang sakit hari ini tadi terdata 96 anak," kata Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMPN 6 Boyolali, Marsih Sri Hartini, ditemui di sekolah tersebut Jumat (21/8).
Selain itu, jelas dia, juga terdapat 3 guru dan satu pegawai Tata Usaha yang mengeluhkan gejala keracunan. Marsih juga mengaku, mengalaki gejala keracunan.
"Gurunya ada 3, TU satu (mengalami gejala keracunan). Kebetulan saya sendiri juga tadi habis ngajar saya juga diare. Maka terus saya mendahului pulang sebentar, terus kesini lagi," ungkapnya.
Kemudian terdapat 26 siswa izin tidak masuk sekolah karena sakit. Namun belum terkonfirmasi, 26 anak tersebut apakah juga mengalami gejala keracunan.
Marsih mengatakan, dugaan keracunan itu diduga dari menu MBG yang disantap siswa pada Kamis (20/8). Pada Jumat (21/8) pagi pihak sekolah mendapat laporan dan keluhan dari para siswa, bahwa mereka mengeluhkan sakit perut dan diare.