Merujuk pada pernyataan pembuka Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, dalam konferensi tersebut, Mahmood mengingatkan bahwa Fidan menekankan pentingnya dialog yang tulus, mediasi yang berkelanjutan, dan kepemilikan regional.
"Saya yakin bahwa dengan berfokus pada ketiga prinsip dasar ini, kemajuan yang signifikan dapat dicapai dalam penyelesaian konflik yang sedang berlangsung, baik di kawasan kita maupun di berbagai belahan dunia lainnya," katanya.
"Hal ini juga sangat krusial bagi D-8. Organisasi ini awalnya didirikan dengan partisipasi Turkiye, Pakistan, Iran, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Nigeria, dan Mesir. Dengan bergabungnya Azerbaijan, kini organisasi tersebut beranggotakan sembilan negara," katanya.
"Semua negara ini memiliki arti penting secara geostrategis dan geoekonomis. Masing-masing juga memiliki kapasitas yang cukup besar untuk memengaruhi perkembangan di kawasan mereka sendiri," tambahnya.
Mahmood mencatat bahwa negara-negara seperti Pakistan memainkan peran penting dalam mewujudkan gencatan senjata antara Iran dan AS pada awal tahun ini, sementara Turkiye, Mesir, dan negara-negara lainnya memberikan dukungan kuat terhadap upaya tersebut.
Dia juga menyinggung pertemuan para menteri luar negeri kelompok R4 (Turkiye, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi), serta R4+E3 (Jerman, Inggris, dan Prancis) yang diselenggarakan di Istanbul pada Jumat.
Mahmood menyatakan bahwa platform-platform baru seperti itu mendukung diplomasi dan dialog, seraya menegaskan kembali bahwa D-8 memiliki peran penting dalam memajukan perdamaian dan stabilitas.
Mahmood menyatakan bahwa misi utama D-8 adalah kerja sama dan integrasi ekonomi.
Dia mencatat bahwa organisasi tersebut berupaya meningkatkan perdagangan di antara negara-negara anggotanya serta memperkuat kerja sama ekonomi di berbagai sektor, mulai dari pertanian dan industri hingga transportasi, energi, pariwisata, dan layanan kesehatan.
"Kami juga menyadari bahwa kita hidup di dunia di mana unilateralisme dan proteksionisme semakin menguat," ujarnya.