"Dalam situasi seperti ini, sangatlah penting bagi negara-negara seperti anggota D-8 untuk bersatu guna memperkuat rantai pasok dan rantai nilai mereka, serta meningkatkan ketahanan mereka," tambahnya.
"Dalam konteks ini, kami berfokus pada peningkatan kerja sama timbal balik, menciptakan sinergi yang lebih besar di antara sumber daya dan kapabilitas kami, serta menangani dua transformasi besar yang tengah berlangsung saat ini," katanya.
Mahmood menyebutkan transformasi pertama sebagai "transisi hijau" yang didorong oleh perubahan iklim, seraya mencatat bahwa Turkiye memainkan peran penting dalam bidang ini.
Dia menambahkan bahwa transisi besar kedua adalah "transformasi digital," seraya menegaskan bahwa organisasi tersebut bertekad untuk mencapai kemajuan di kedua bidang tersebut.
Menyatakan dukungan negara-negara D-8 bagi rakyat Palestina, Mahmood menyatakan bahwa negara-negara anggota secara konsisten telah menunjukkan solidaritas dalam mengupayakan solusi yang adil, dan langgeng bagi persoalan Palestina.
Dia menuturkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara D-8 telah menyelenggarakan berbagai pertemuan, baik di tingkat menteri maupun pemimpin, untuk menjajaki bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam upaya bantuan kemanusiaan.
Saat memaparkan prioritas utama organisasi tersebut, Mahmood mengatakan: "Prioritas utama kami adalah melaksanakan rencana yang mencakup periode 2020-2030, yang dikenal sebagai 'peta jalan 10 tahun'."
"Salah satu tujuan utama kami adalah meningkatkan volume perdagangan antarnegara D-8 hingga mencapai 500 miliar dolar AS (Rp9,05 kuadriliun). Ini termasuk dalam prioritas tertinggi kami," ujarnya.
Mahmood juga mencatat bahwa D-8 akan segera mencapai peringatan 30 tahun berdirinya, seraya menambahkan bahwa pertemuan puncak organisasi berikutnya dijadwalkan akan berlangsung di Indonesia pada 2027.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia