“Ke depan kami menargetkan bisa memasok ke swalayan lokal dan pusat oleh-oleh di destinasi wisata seperti Raja Ampat,” kata Dina.
Menurut Dina, dengan modul, silabus dan standar operasional prosedur yang disusun tim, peserta mempelajari pemilihan bahan baku, kebersihan dan keamanan pangan, teknik pengolahan, pengemasan, serta dasar-dasar pemasaran.
Tim juga mendampingi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan pangan industri rumah tangga.
Bagi peserta, pelatihan ini membuka harapan untuk membangun usaha dari hasil kebun di sekitar mereka. Melalui Sekolah Foodpreneur, potensi hasil kebun di Klamono-Segun mulai dihubungkan dengan keterampilan pengolahan dan peluang pasar.
Pendampingan ini diharapkan menjadi pijakan bagi keluarga petani untuk mengembangkan usaha pangan lokal dan memperoleh nilai tambah dari hasil panennya.