Dengan kondisi ini, Gus Ipul mengatakan tantangan Sekolah Rakyat adalah membuat mereka setara sehingga dapat mengikuti proses pendidikan dan pembentukan karakter dengan baik.

Maka dari itu setiap siswa yang masuk sekolah rakyat diawali dengan tes kesehatan, lalu dilakukan rehabilitasi di sentra-sentra Kemensos jika dibutuhkan, sebelum mengikuti proses pembelajaran.

Gus Ipul menyampaikan jumlah siswa terus bertambah seiring perkembangan Sekolah Rakyat yang tersebar di 182 titik di seluruh Indonesia, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.

Ia mengatakan setiap jenjang memiliki persoalan berbeda-beda. Adapun anak-anak SD berkutat dengan masalah kemandirian, anak SMP dengan masa-masa pubernya, dan anak SMA yang beranjak dewasa.

"Jadi banyak masalah, banyak dinamika, yang ini terus berusaha kita dekati dengan cara yang baik, dengan cara yang sesuai prosedur, mengikuti norma, tetapi juga menghormati, menghargai siswa-siswa itu sebagai manusia," katanya.

Meski demikian, Gus Ipul bersyukur secara keseluruhan penyelenggaraan Sekolah Rakyat hingga kini berjalan lancar. Mulai dari sisi peserta didik, kurikulum pembelajaran, sarana prasarana, tenaga kependidikan serta fasilitas penunjang lainnya.

"Kekurangan-kekurangan terus kita benahi, termasuk mencukupi kebutuhan guru, wali asrama, dan wali asuh," ucapnya.

Pada kesempatan ini, Gus Ipul berpesan kepada para kepala sekolah untuk serius menyiapkan hilirisasi peserta didik sejak dini. Ia menegaskan hasil tes talent DNA harus dijadikan rujukan dalam mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja terampil atau melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Sementara itu, Agus Jabo menekankan pentingnya menyamakan persepsi baik di kalangan internal maupun eksternal, yaitu orang tua siswa untuk meminimalisir dinamika-dinamika di lapangan. Ia juga mendorong hadirnya sistem yang mapan agar tujuan utama memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan dapat tercapai.