NADIKABAR.COM — Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mendorong penguatan sektor manufaktur dalam negeri agar bisa terus menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan permintaan dan peningkatan daya saing industri, serta perluasan rantai pasok domestik.
Ketua Umum BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo, mengatakan sektor manufaktur merupakan salah satu pemain kunci dalam perekonomian nasional karena memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar. Ketika aktivitas produksi meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan industri besar namun juga pemasok bahan baku, perusahaan logistik, distributor, UMKM industri, hingga tenaga kerja.
"Manufaktur memiliki multiplier effect yang sangat luas. Karena itu, momentum pertumbuhan ekonomi dan investasi yang sudah terjaga perlu terus kita dorong masuk ke sektor produksi. Kalau permintaan meningkat dan industri semakin kompetitif, kapasitas produksi akan bergerak dan lapangan kerja juga semakin terbuka," ujar Ade Jona dalam keterangan resminya, Jumat (4/9/2026).
Sayang, saat ini kondisi sektor manufaktur nasional tengah mengalami pelemahan. Hal ini terlihat dari angka Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 49,8 pada Agustus 2026, turun tipis dari 50,2 pada Juli.