NADIKABAR.COM — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut sektor pariwisata berhasil mendatangkan devisa sebesar sebesar 18,27 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp305,47 triliun sepanjang 2025.

Dalam Laporan Capain Dua Tahun Sektor Pariwisata yang diterima di Denpasar, Selasa, Widiyanti menyatakan bahwa capaian itu meningkat 9,41 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara pada semester I 2026, sumbangan devisa pariwisata tercatat mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp140,95 triliun, meningkat 2,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Belanja wisatawan mancanegara turut menggerakkan usaha lokal dan memperkuat perekonomian Indonesia.

Sederet pencapaian ini bukan sekadar angka, kata Menpar Widiyanti, melainkan wujud nyata sinergi dan komitmen berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem pariwisata, membangkitkan ekonomi lokal, serta memperluas peluang bagi seluruh elemen bangsa.

"Mari terus bersama-sama mendukung kemajuan pariwisata Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan mendunia," kata dia.

Secara keseluruhan, kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2025 mencapai 4,78 persen atau senilai Rp1.138,90 triliun.

Pada Januari-Juni 2026, angka itu diperkirakan berada pada rentang 4,02- 4,90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata menjadi salah satu sektor strategis utama penggerak ekonomi nasional, yang efek penggandanya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja di sektor pariwisata dan rantai pasok pendukungnya.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan dampak serupa juga terlihat dari penyelenggaraan kegiatan. Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kementerian Pariwisata memberikan dukungan pada 377 kegiatan di seluruh Indonesia.

Berdasarkan hasil kajian penyelenggaraan 354 kegiatan, termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), dan kegiatan internasional, terdapat 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun.

"Angka Rp45,9 triliun itu menggambarkan bagaimana sebuah event dapat menjadi mesin ekonomi dalam waktu relatif singkat. Ketika ribuan orang datang ke sebuah festival, manfaatnya terasa langsung oleh pelaku usaha dan seluruh lapisan masyarakat," ujar Ni Luh.

Oleh karena itu, Ni Luh mengajak untuk mendorong kegiatan pariwisata tidak hanya dijadikan sebagai tontonan, tetapi, juga sebagai penggerak ekonomi daerah.