Di distrik Limassol, seorang investor Israel berencana menghidupkan kembali Trozena, sebuah desa yang telah ditinggalkan selama beberapa dekade. Rencananya mencakup pemugaran sekitar 60 rumah serta pembangunan fasilitas pariwisata, area perkemahan, dan kilang anggur.

Proyek yang berada di dalam kawasan lindung Natura 2000 itu memicu penolakan dan penyelidikan oleh otoritas terkait setelah sejumlah pekerjaan dimulai tanpa izin perencanaan dan izin bangunan yang diwajibkan.

Pada saat yang sama, infrastruktur yang melayani komunitas Israel semakin terlihat.

Tempat ibadah, bisnis, dan layanan yang ditujukan bagi warga Israel, seperti restoran yang menyajikan makanan kosher, telah dibuka di Larnaca, Limassol, dan Paphos.

Iklan berbahasa Ibrani juga dapat terlihat di sepanjang jalan, termasuk materi kampanye politik. Musim panas lalu, papan reklame Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot yang menyasar pemilih Israel terlihat di sepanjang jalan raya di Siprus.

Salah satu tanda paling jelas bahwa keberadaan komunitas Israel di Siprus semakin bersifat permanen adalah rencana pembangunan sekolah swasta Yahudi di Polemidia, dekat Limassol, dengan kapasitas hingga 1.500 siswa.

Semua perkembangan ini semakin memanaskan perdebatan politik mengenai investasi asing dan kepemilikan properti secara umum.

Perdebatan tersebut juga dipengaruhi oleh apa yang disebut para pengkritik sebagai dukungan diplomatik Siprus yang tanpa syarat terhadap Israel, serta pengalaman negara itu sebelumnya ketika menerima arus besar modal Rusia. Arus modal tersebut meningkat setelah Siprus memperluas program kewarganegaraan melalui investasi menyusul krisis keuangan 2013.

Sejumlah kritik politik paling keras datang dari Stefanos Stefanou, Sekretaris Jenderal Partai Progresif Rakyat Pekerja Siprus (AKEL), serta Fidias Panayiotou, anggota Parlemen Eropa dan pemimpin Partai Direct Democracy.

AKEL merupakan partai kiri utama di Siprus dan saat ini berada di kubu oposisi. Stefanou memperingatkan adanya penjualan tanah Siprus kepada warga asing yang tidak terkendali. Ia secara khusus menyinggung pembelian oleh warga Israel dan apa yang ia sebut sebagai munculnya kompleks-kompleks hunian tertutup yang memiliki infrastrukturnya sendiri.

Panayiotou melontarkan kritik yang lebih jauh dengan mengklaim bahwa "Israel sedang membeli Siprus" dan memperingatkan bahwa perekonomian Siprus berisiko menjadi terlalu bergantung pada modal Israel.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan keras dari pihak Israel.

Duta Besar Israel untuk Siprus, Oren Anolik, menolak klaim mengenai pengaruh Israel yang berlebihan. Menurutnya, ribuan warga Israel yang tinggal dan menjalankan bisnis di pulau tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi Siprus.