Ia mengaku, MTQ Nasional tahun ini menjadi pengalaman pertamanya tampil di tingkat nasional. Pria asal Semarang itu sudah mempersiapkan tilawah secara intens selama sekitar satu tahun.

"Saya itu mulai dari 2017 menghafalkan Al-Quran di Pondok Pesantren Al-Khairiah Jepara. Dan persiapan menghafal Al-Qur'an itu dulu saya 3 tahun untuk menghatapkan 30 juz," kata Ahmad.

Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, kata Ahmad, ia memperdalam kemampuan tilawahnya. Mulai dari teknik pernapasan, mengatasi suara serak hingga melatih cengkok.

"Untuk mempelajari tilawah alhamdulillah saya menjalani pelan-pelan untuk serius ini 1 tahun persiapannya. Dan itu penuh dengan teknik pernapasan, teknik untuk menghilangkan suara serak untuk melanyarkan cengkok itu 1 tahun saya untuk berlatih," ujarnya.

Ahmad sendiri merupakan penyandang tunanetra sejak lahir. Dia mengatakan, keterbatasan penglihatan membuat proses belajar Al-Qur'an dilakukan dengan mengandalkan pendengaran.

"Kesulitannya ketika belum bisa ya karena tunanetra itu menghafalnya pakai pendengaran. Kalau diajarin ustaznya nggak bisa-bisa, sulitnya di situ. Makanya ustaz yang mengajar tunanetra itu memang harus benar-benar sabar, benar-benar ikhlas," tuturnya.

Ahmad pun mengatakan, mengikuti ajang MTQ Nasional ini bukan semata-mata untuk mengejar juara. Dia justru ingin memperdalam kemampuan membaca Al-Qur'an dan mendapatkan pengalaman dari para pembina.

"Harapan saya di tahun ini saya itu bukan niat cari juara. Saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur'an itu lebih dalam," kata Ahmad.

Ahmad juga sempat bercerita perjalanannya mempelajari Al-Qur'an, yang bermula ketika usianya 16 tahun, saat dia masuk pondok pesantren untuk lebih fokus belajar. Sebelumnya, ia mengaku kesulitan belajar Al-Qur'an.

"Kalau dulu mau belajar Al-Qur'an itu sulit awalnya, karena saya nggak bisa baca. Hampir saya dulu itu mau frustrasi. Sampai-sampai saya udah mikir saya mau nakal aja lah nggak apa-apa," kenangnya.

Namun, saat ia tengah jalan-jalan ke Jawa Timur, ia bertemu orang tak dikenal yang tiba-tiba menegurnya dam mengingatkan dirinya mengenai fungsi telinga, pikiran, dan hati yang dimilikinya.