Menurutnya, dentuman umumnya terdengar setelah aktivitas letusan mengalami jeda dalam kurun waktu tertentu dan dentuman biasanya terdengar setelah fase letusan Semeru mengalami jeda cukup lama.
Fenomena suara dentuman dapat menyertai aktivitas gunung api. Karena itu munculnya suara dentuman tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tanda bahwa kondisi Gunung Semeru memburuk. Perkembangan aktivitas gunung api tetap perlu dilihat berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi dari instansi yang berwenang.
Gunung Semeru hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga, sehingga masyarakat tetap perlu menjadikan rekomendasi keselamatan sebagai pedoman utama dalam beraktivitas di sekitar kawasan gunung.
Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahwa masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak," ujarnya.