Deni menjelaskan, bagi Soekarno Cup, peningkatan kualitas perangkat pertandingan bukan sekadar persoalan teknis pertandingan. Dari perspektif pembinaan, pengalaman bertanding dalam kompetisi dengan standar penyelenggaraan yang semakin profesional memiliki nilai yang besar.
"Pemain tidak hanya belajar mengenai teknik dan taktik, tetapi juga belajar menghadapi tekanan pertandingan, menghormati keputusan perangkat pertandingan, menjaga disiplin, dan memahami pentingnya fair play," ujarnya.
Karena itu, lanjut Deni, penggunaan wasit berkualitas dan VAR dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pemain-pemain muda yang tampil di Soekarno Cup bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi pesepak bola yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga dibentuk untuk memahami budaya kompetisi yang sehat dan profesional.
"Dengan menghadirkan teknologi VAR pada semifinal serta final, Soekarno Cup 2026 menunjukkan keseriusan untuk terus meningkatkan standar kompetisinya. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan sepak bola usia muda membutuhkan ekosistem yang profesional, obyektif, transparan, dan berorientasi pada masa depan. Ini komitmen kita bersama," pungkas Deni Wicaksono.