Dilansir Anadolu, Minggu (20/9/2026), melalui platform media sosial akun Travel.Gov, milik Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa warga Amerika di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, serta gangguan perjalanan.

"Akibat ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga," demikian pernyataan tersebut.

Pihaknya memperingatkan kelompok Houthi yang didukung Iran telah melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang melibatkan bandara sipil, dan menyatakan bahwa konflik tersebut "berpotensi meningkat dengan cepat."

Sebelumnya, ledakan terdengar di Riyadh pada hari Sabtu waktu setempat. Ledakan terdengar setelah otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara menyusul ancaman serangan dari kelompok Houthi pro-Iran di Yaman.

"Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh," demikian bunyi pesan peringatan yang diterima oleh para penduduk di ibu kota Arab Saudi dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026).

Ini merupakan pertama kalinya ibu kota terdampak secara langsung sejak konflik di negara tetangga, Yaman, kembali memanas pada bulan Juli.

Kelompok Houthi di Yaman, pada Jumat (18/9) menyatakan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 26 serangan ke wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali mereka dalam 24 jam terakhir, seiring sengitnya bentrokan antara kelompok pro-Iran tersebut dan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh dalam perang saudara yang kembali membara.