Seluruh korban luka telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sementara kedua fasilitas itu mengalami kerusakan, menurut otoritas tersebut. Laporan mengenai jatuhnya korban muncul setelah juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan sebelumnya pada Rabu (7/10) bahwa sejumlah drone menargetkan Bandar Udara Internasional King Khalid, sementara rudal balistik dan drone menghantam Bandar Udara Internasional Abha serta Pangkalan Udara King Khalid di dekat Khamis Mushait, wilayah Asir, Arab Saudi barat daya. Pada Rabu yang sama, koalisi pimpinan Arab Saudi juga mengeklaim telah mencegat dua rudal balistik Houthi, satu di Riyadh utara dan satunya lagi yang mengarah ke Kota Khamis Mushait di Arab Saudi barat daya. Juru bicara koalisi Turki al-Malki mengatakan Sana'a serta provinsi Saada dan Amran merupakan sumber ancaman rudal Houthi. Al-Malki kemudian mengatakan koalisi telah menghancurkan sebuah peluncur rudal balistik yang disebutnya digunakan dalam serangan terhadap Riyadh. Sementara itu, Kementerian Transportasi Yaman mengatakan pasukan Houthi meluncurkan rudal balistik dan drone ke Bandar Udara Internasional Aden menjelang fajar, sehingga memaksa sebuah penerbangan penumpang yang akan mendarat mengalihkan penerbangan. Menurut kementerian tersebut, dua rudal balistik dan sejumlah drone yang membawa bahan peledak menargetkan landasan pacu dan terminal penumpang.
Salah satu rudal menghantam area di dekat landasan pacu hanya beberapa menit sebelum pesawat penerbangan 603 Yemenia Airways dari Kairo dijadwalkan mendarat. Belum ada laporan mengenai korban. Dalam pernyataan terpisah, kelompok Houthi mengatakan pihaknya meluncurkan rudal balistik untuk menargetkan pasokan militer Arab Saudi yang baru tiba di Kamp Badr dekat Bandar Udara Internasional Aden. Kelompok tersebut mengatakan serangan itu menimbulkan korban di kalangan perwira Arab Saudi, tetapi tidak memberikan angka secara spesifik.
Houthi juga memperingatkan Riyadh agar tidak menggunakan bandara tersebut untuk keperluan militer. Serangan lintas perbatasan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, terutama di dekat Selat Bab al-Mandab yang strategis. Pemerintah Yaman pada Senin (5/10) mengumumkan peluncuran operasi militer baru yang bertujuan merebut kembali ibu kota Sanaa, seiring pasukan pemerintah melancarkan serangan balasan di dekat Selat Bab al-Mandab yang strategis. Pada Rabu, kelompok Houthi mengeklaim telah memukul mundur upaya pasukan pemerintah untuk bergerak menuju posisi mereka di Provinsi Al-Jawf, Yaman utara, dekat perbatasan dengan Arab Saudi.