Menurut Mukhtarudin, keberadaan Migrant Center dapat memperkuat akses masyarakat terhadap informasi lowongan kerja luar negeri yang resmi, edukasi prosedur penempatan, serta pemahaman mengenai hak dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Jawa Barat menjadi salah satu wilayah potensial dalam penempatan pekerja migran. Data Kementerian P2MI mencatat sebanyak 239.821 layanan penempatan Pekerja Migran asal provinsi tersebut selama 2023 hingga 26 Oktober 2026.
Dari jumlah itu, Kabupaten Garut mencatat 2.725 layanan, Kabupaten Tasikmalaya 1.412 layanan, dan Kota Tasikmalaya 560 layanan.
Kementerian P2MI menawarkan sejumlah bentuk kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi, meliputi pembentukan Migrant Center, penyebarluasan informasi lowongan kerja luar negeri yang prosedural.
"Penting juga pertukaran data untuk pemetaan kebutuhan tenaga kerja kita, serta peningkatan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia kita lebih berkualitas," kata Mukhtarudin.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung sosialisasi dan pelaksanaan Program SMK Go Global sekaligus memperkuat tata kelola pelindungan pekerja migran sejak sebelum bekerja, selama bekerja, hingga setelah kembali ke Indonesia.
Bagi wilayah potensial seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya, kerja sama ini menjadi angin segar untuk memperluas lapangan kerja bagi lulusan daerah.
"Harapannya, integrasi pelatihan kerja dan sosialisasi migrasi aman dapat menekan angka pekerja nonprosedural sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah," ujar Mukhtarudin.
Melalui sinergi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemerintah pusat, Menteri P2MI Mukhtarudin berharap peluang kerja global dapat dimanfaatkan secara optimal melalui penempatan tenaga kerja yang kompeten, aman, prosedural, dan terlindungi.