Kampanye yang sengit ini menunjukkan perpecahan mendalam di negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa tersebut. Dalam pidato pertama usai kemenangannya, Lula mengucapkan terima kasih kepada rakyat Brasil yang disebutnya telah memberikan suara untuk 'menjamin demokrasi' di negara tersebut.

"Orang-orang datang untuk memilih karena kita berhasil meyakinkan mereka bahwa memberikan suara sangatlah penting demi menjamin demokrasi di negara ini," kata Lula.

Kemenangan ini disambut kembang api dan suara vuvuzela di Rio de Janeiro, dengan ribuan orang yang mengenakan pakaian serba merah -- warna Partai Pekerja yang menaungi Lula da Silva -- memadati jalanan di Sao Paulo untuk merayakan kemenangan itu.

Setelah kalah, Flavio Bolsonaro mengatakan seorang hakim Mahkamah Agung Brasil melarang dirinya untuk meninggalkan negara itu. Flavio mengungkapkan larangan ini muncul sehari setelah dia kalah dalam pilpres dan menolak untuk mengakui kekalahannya dari Lula da Silva.

Dalam pernyataan video yang diunggahnya ke media sosial X dan Instagram, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Flavio mengatakan bahwa sejumlah personel Kepolisian Federal Brasil menyampaikan perintah itu kepadanya setelah dia menjenguk ayahnya yang kini berstatus tahanan rumah.

"Saya menerima perintah untuk menyerahkan paspor saya, dan saya juga dilarang untuk meninggalkan negara ini," kata Flavio dalam pernyataan videonya.