NADIKABAR.COM — Aroma arang dan jelaga sisa kebakaran hutan masih tercium pekat ketika angin kemarau berembus pelan menyapu hamparan bukit di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, di kawasan Ibu Kota Nusantara.
Batang-batang pohon menghitam kaku seperti siluet di tanah yang tandus gersang. Di lahan hutan konservasi yang seharusnya hijau rimbun itu, jejak-jejak si jago merah menyisakan garis hitam memanjang, tanda betapa ganas gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang Benua Etam, julukan Provinsi Kalimantan Timur, sepanjang musim kemarau.
Tetapi, di tengah lanskap yang tampak mati dan berdebu tersebut, pada akhir Oktober 2026, suasana berubah menjadi riuh oleh semangat dan langkah kaki ratusan anak muda provinsi itu.
Berbekal cangkul, sarung tangan, dan deretan polibag berisi bibit-bibit tanaman muda, mereka merayap di antara gundukan tanah yang diselimuti arang.
"Selamatkan hutan kita! Di tempat di mana api pernah berkobar menghanguskan pepohonan, kita berdiri menanam seribu bibit pohon endemik Kalimantan untuk harapan hijau Benua Etam," ucap Wawan Irawan, inisiator gerakan Borneo Kind.
Seribu pohon itu bukan sekadar angka seremonial, tapi sebuah oasis kehidupan baru yang terbit di tengah padang arang bekas karhutla.