Nava Rehavia, 70 tahun, mendesak Eisenkot dan Liberman untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpin Netanyahu, seraya berkata: "Pihak Arab tidak menang, karena mereka mencuri pemilu."

Sementara itu, Eisenkot yang merupakan seorang mantan kepala militer yang baru terjun ke dunia politik, memiliki pandangan yang sebagian besar sejalan dengan Netanyahu mengenai isu-isu keamanan, termasuk terkait Gaza-wilayah yang telah dihancurkan Israel hingga menjadi puing-puing sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Eisenkot menegaskan kembali bahwa ia hanya akan membentuk pemerintahan Zionis yang anggotanya berkomitmen untuk mengakui Israel sebagai negara Yahudi yang demokratis dan liberal. Eisenkot juga menegaskan mengakui Hamas sebagai organisasi teroris, syarat-syarat yang sebelumnya telah ditolak oleh para pemimpin Arab.

Meskipun menyatakan tidak menginginkan pemerintahan yang bergantung pada daftar partai Arab, Eisenkot tidak secara eksplisit menolak dukungan eksternal dari mereka.

Yair Golan, pemimpin partai sayap kiri Democrats, dengan antusias mendukung gagasan pemerintahan yang didukung oleh partai-partai Arab-dengan menyatakan bahwa mengecualikan mereka adalah tindakan rasis.

Namun, Avigdor Liberman, pemimpin partai sayap kanan Yisrael Beitenu yang juga menentang Netanyahu, menegaskan bahwa ia tidak akan bergabung dalam koalisi yang bergantung pada partai-partai Arab, bahkan jika hanya berupa dukungan eksternal.

"Siapa pun yang ingin bergantung pada para pendukung terorisme, silakan saja. Yisrael Beitenu tidak akan terlibat," tulisnya di Facebook.