Meski demikian, hama tetap menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi. Namun, keberadaan hama tersebut masih dapat dikendalikan oleh pengelola.

"Kalau kesulitannya lebih ringan daripada kita tanam di luar green house atau di hamparan. Kendala ada di hama di dalam green house, tetapi bisa dikendalikan," jelas Bagas.

Menariknya, minat masyarakat terhadap wisata petik melon ini disebut sudah terlihat bahkan sebelum pembukaan. Sejumlah pengunjung telah datang untuk melihat sekaligus mencoba langsung melon yang dibudidayakan.

Dalam satu siklus tanam, melon dapat dipanen sekitar 60 hingga 65 hari sejak dari benih, tergantung kondisi dan varietas tanaman.

Dengan menyasar pasar melon premium, harga buah yang ditawarkan juga relatif lebih tinggi. Melon hasil budidaya di green house ini dibanderol sekitar Rp 30 ribu per kilogram.

Konsep wisata tersebut menunjukkan bahwa komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik. Pengunjung tidak hanya mendapatkan buah segar, tetapi juga pengetahuan mengenai teknologi pertanian modern dan pengalaman memetik melon langsung dari tanaman.

Dari sebuah green house, melon pun tak sekadar menjadi komoditas pertanian, melainkan dikemas menjadi wisata edukasi dan pengalaman kuliner yang menawarkan sensasi berbeda bagi masyarakat.