Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perjalanan kuliner menjadi salah satu cara menyenangkan untuk mengenal karakter sebuah daerah. Melalui makanan, masyarakat dapat menemukan cerita tentang tradisi, kebiasaan keluarga, hingga resep yang bertahan dari generasi ke generasi.

β€œSetiap kota punya makanan yang membuat orang ingin datang kembali. Ada yang rindu sarapan khas Solo, ingin menikmati lumpia langsung di Semarang, atau mencari empal gentong favoritnya di Cirebon. Kereta api menghubungkan kota-kota tersebut, sehingga perjalanan akhir pekan bisa menjadi kesempatan untuk menikmati cita rasa yang berbeda sekaligus mengenal kehidupan masyarakat setempat,” ujar Anne.

Cerita kuliner itu terasa dekat pada perjalanan KA Joglosemarkerto. Pelanggan dapat merencanakan kunjungan ke Solo untuk menikmati timlo, nasi liwet, selat Solo, dan serabi. Perjalanan dapat dilanjutkan pada waktu berbeda menuju Yogyakarta yang dikenal dengan gudeg dan bakpia, atau Semarang dengan lumpia, tahu gimbal, dan bandeng presto. Di Purwokerto, mendoan hangat menjadi salah satu hidangan khas yang akrab dengan keseharian masyarakat. Banyaknya pilihan kota membuat perjalanan kuliner dapat disusun sesuai waktu yang tersedia.

Suasana berbeda hadir melalui KA Lodaya yang menghubungkan Bandung dan Solo. Dari batagor, mi kocok, hingga surabi di Bandung, perjalanan membawa pelanggan menuju Solo dengan kekayaan kuliner tradisionalnya. Sementara KA Ranggajati membuka pilihan perjalanan dari Cirebon, kota yang dikenal dengan empal gentong, nasi jamblang, dan tahu gejrot, menuju kawasan Jawa Timur. Surabaya menawarkan rawon dan rujak cingur, sedangkan Jember memiliki kuliner khas seperti suwar-suwir dan pecel pincuk yang menjadi bagian dari identitas kuliner daerah.