Arab Saudi merupakan salah satu kekuatan utama di kawasan Teluk, sedangkan Iran mendukung sejumlah kelompok bersenjata dan aktor politik di Timur Tengah, termasuk Houthi.
Bagi Riyadh, hubungan Houthi dengan Teheran menambah kekhawatiran terhadap ancaman rudal, drone, dan pengaruh Iran di dekat perbatasannya. Sementara itu, dukungan Iran membantu Houthi meningkatkan kemampuan militernya.
Meski demikian, konflik Yaman tidak semata-mata merupakan perang tidak langsung antara kedua negara tersebut. Persaingan kekuasaan di dalam Yaman, persoalan pemerintahan, serta kepentingan lokal juga berperan besar dalam mempertahankan konflik.
4. Memanfaatkan posisi strategis Yaman
Yaman berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Jalur tersebut menjadi bagian penting perdagangan internasional karena dilalui kapal yang mengangkut energi dan berbagai barang antara Asia, Eropa, serta kawasan lainnya.
Penguasaan wilayah pesisir dan kemampuan menyerang kapal maupun fasilitas strategis memberikan Houthi pengaruh lebih besar dalam konflik regional. Pada 2026, kelompok tersebut dilaporkan memperluas kendali di beberapa wilayah pesisir Laut Merah, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran.
Serangan terhadap Arab Saudi pun tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral kedua pihak. Gangguan terhadap bandara, fasilitas energi, dan jalur pelayaran dapat memengaruhi perjalanan internasional serta stabilitas ekonomi kawasan.
Hingga 13 Oktober 2026, situasi masih tegang dan belum terlihat adanya kesepakatan untuk menghentikan serangan secara menyeluruh.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang menyasar wilayahnya. Negara tersebut juga melakukan penyelidikan mengenai bagaimana sistem pertahanan udaranya gagal mencegah serangan mematikan di Bandara Internasional King Khalid.
Serangkaian serangan tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem peringatan dini bagi warga. Menurut laporan Reuters, otoritas Saudi kembali mengeluarkan peringatan ancaman pada 12 Oktober setelah tidak mengeluarkan peringatan publik selama beberapa hari sebelumnya.
Dampaknya juga terasa pada sektor penerbangan. Qatar Airways pada 13 Oktober mengumumkan penghentian sementara penerbangan dari dan menuju Riyadh serta Dammam karena situasi keamanan. Sejumlah negara juga mengeluarkan imbauan perjalanan atau meningkatkan kewaspadaan bagi warga dan staf diplomatiknya.
Di Yaman, situasi semakin rumit karena serangan udara dan operasi darat kembali meningkat. Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai, sementara pihak koalisi Saudi menyatakan serangan Houthi terhadap warga sipil dan fasilitas sipil akan mendapat respons.
Perkembangan terbaru tersebut berisiko memperluas konflik dan meningkatkan korban sipil di kedua sisi. Klaim dari pihak-pihak yang bertikai juga perlu diperiksa secara independen karena informasi mengenai sasaran, jumlah korban, dan hasil operasi militer dapat berbeda.
Pada tingkat diplomatik, sejumlah negara menyerukan penghentian serangan dan penyelesaian melalui jalur politik. Menteri Luar Negeri Mesir, misalnya, menyerukan agar serangan Houthi terhadap Arab Saudi dihentikan dan mendorong penyelesaian diplomatik. Iran juga menyatakan kesediaannya membantu memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan Yaman.
Sementara itu, kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat secara langsung masih menjadi perhatian. Presiden Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan opsi untuk bergabung dalam operasi Saudi terhadap Houthi, tetapi hingga kini belum mengumumkan keputusan untuk melakukan intervensi langsung.