NADIKABAR.COM — Kelompok Houthi kembali menjadi sorotan setelah melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi pada 10 Oktober 2026. Salah satu sasaran utama serangan tersebut adalah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menimbulkan korban jiwa, melukai ratusan orang, dan mengganggu aktivitas penerbangan.
Serangan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan bahwa konflik antara Houthi dan Arab Saudi kembali memasuki fase berbahaya. Situasi tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan meluasnya peperangan di kawasan Timur Tengah yang sudah diwarnai ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pada 10 Oktober, serangan terhadap bandara Riyadh dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan lanjutan pada 11 Oktober kembali menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Secara keseluruhan, laporan Reuters menyebut jumlah korban meninggal dalam rangkaian serangan di bandara Riyadh selama sepekan mencapai 18 orang.
Houthi mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan tersebut. Kelompok itu juga mengancam akan memperluas serangan terhadap bandara-bandara Arab Saudi jika operasi militer Saudi di Yaman tidak dihentikan.
Lantas, siapa sebenarnya kelompok Houthi, mengapa mereka menyerang Arab Saudi, dan bagaimana akar konflik kedua pihak?
Houthi adalah kelompok politik dan bersenjata yang berasal dari Yaman, negara di kawasan Semenanjung Arab. Kelompok ini juga dikenal dengan nama Ansar Allah, yang berarti pendukung Allah.
Gerakan Houthi tumbuh dari gerakan kebangkitan keagamaan masyarakat Syiah Zaidiyah di Yaman utara pada akhir 1990-an. Nama Houthi diambil dari keluarga al-Houthi, yang berperan penting dalam perkembangan gerakan tersebut.
Pada awal kemunculannya, kelompok ini bergerak untuk memperkuat identitas keagamaan dan menentang kebijakan pemerintah Yaman yang mereka anggap merugikan masyarakat di wilayah utara. Seiring waktu, gerakan tersebut berkembang menjadi kelompok bersenjata yang terlibat dalam konflik dengan pemerintah.
Houthi kemudian memperluas pengaruh politik dan militernya ketika pemerintahan Yaman mengalami krisis. Pada 2014, kelompok ini berhasil mengambil alih ibu kota Sanaa dan menguasai sejumlah wilayah di bagian utara negara tersebut.
Pengambilalihan itu memicu konflik yang lebih luas dengan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Perkembangan tersebut juga membuat Arab Saudi semakin khawatir karena wilayah yang dikuasai Houthi berbatasan langsung dengan kerajaan tersebut.
Houthi memiliki hubungan erat dengan Iran, termasuk dukungan militer dan teknologi persenjataan yang dilaporkan oleh berbagai sumber internasional. Namun, kelompok ini juga mempunyai kepentingan politik dan agenda sendiri di Yaman sehingga tidak tepat jika seluruh tindakannya hanya dijelaskan sebagai keputusan Iran.
Akar konflik antara Houthi dan Arab Saudi berkaitan erat dengan krisis politik Yaman yang berlangsung sejak 2011.
Saat gelombang demonstrasi Arab Spring melanda kawasan Timur Tengah, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menghadapi tekanan untuk mundur setelah puluhan tahun berkuasa. Pada 2012, Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdu Rabbu Mansour Hadi.
Namun, proses transisi politik tidak berjalan mulus. Berbagai persoalan, termasuk perebutan kekuasaan, pembagian sumber daya, ketimpangan wilayah, dan kegagalan mencapai kesepakatan politik, memperburuk kondisi negara.
Houthi memanfaatkan situasi tersebut untuk memperluas pengaruhnya. Pada 2014, mereka merebut Sanaa dan kemudian mengambil alih lebih banyak wilayah, membuat pemerintahan Hadi kehilangan kendali atas ibu kota.
Arab Saudi memandang perkembangan itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya, terlebih karena Houthi memiliki hubungan dengan Iran, rival regional Riyadh.
Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi di Yaman untuk mendukung pemerintahan Hadi dan melawan Houthi. Operasi tersebut melibatkan serangan udara dan dukungan militer terhadap pasukan pemerintah Yaman.
Intervensi itu mengubah konflik yang semula berpusat pada perebutan kekuasaan di Yaman menjadi perang dengan keterlibatan sejumlah negara. Houthi kemudian melancarkan serangan lintas perbatasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak, bandara, dan sasaran strategis lainnya.
Perang tersebut menimbulkan dampak kemanusiaan yang berat. Banyak warga sipil tewas atau terluka, sementara jutaan penduduk Yaman menghadapi pengungsian dan kesulitan memperoleh makanan, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar.
Mengapa Houthi menyerang Arab Saudi?
Serangan Houthi terhadap Arab Saudi tidak dapat dilepaskan dari sejarah perang Yaman dan perkembangan militer terbaru. Setidaknya, ada beberapa faktor yang membantu menjelaskan alasan kelompok tersebut kembali melancarkan serangan.
1. Membalas serangan militer Arab Saudi di Yaman
Houthi menyatakan bahwa serangan mereka merupakan respons terhadap operasi militer Arab Saudi dan koalisi pendukung pemerintah Yaman.
Dalam perkembangan Oktober 2026, Saudi kembali meningkatkan keterlibatan militernya setelah pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk kawasan strategis di pesisir Laut Merah.
Houthi menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap wilayah yang mereka kuasai. Pada 13 Oktober, kelompok tersebut juga menuduh Saudi melancarkan serangan udara semalam di sejumlah lokasi di Yaman, termasuk Pulau Kamaran di Laut Merah, wilayah Qanawis dekat Hodeidah, dan Provinsi Jawf dekat perbatasan Saudi.
Tuduhan mengenai serangan terbaru itu belum dikonfirmasi secara independen, sementara pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut dalam laporan yang tersedia.
2. Menekan Arab Saudi agar menghentikan operasi militernya
Serangan terhadap bandara dan fasilitas strategis merupakan cara Houthi memberikan tekanan langsung kepada Arab Saudi.
Dengan menyasar infrastruktur penting, kelompok tersebut berupaya meningkatkan biaya keamanan dan ekonomi yang harus ditanggung Riyadh jika konflik terus berlangsung.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi mengklaim menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Kelompok itu juga menyebut fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco sebagai sasaran serangan.
Houthi mengancam akan melanjutkan serangan jika Arab Saudi tidak menghentikan intervensi militernya di Yaman. Mereka juga memperingatkan maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Saudi, dengan pengecualian yang mereka sebut untuk kawasan Makkah dan Madinah.
Ancaman tersebut meningkatkan risiko bagi penerbangan sipil dan memperlihatkan bagaimana konflik di Yaman dapat berdampak langsung terhadap negara-negara tetangganya.
3. Persaingan pengaruh antara Arab Saudi dan Iran
Faktor lain yang turut memperumit konflik adalah persaingan regional antara Arab Saudi dan Iran.
Arab Saudi merupakan salah satu kekuatan utama di kawasan Teluk, sedangkan Iran mendukung sejumlah kelompok bersenjata dan aktor politik di Timur Tengah, termasuk Houthi.
Bagi Riyadh, hubungan Houthi dengan Teheran menambah kekhawatiran terhadap ancaman rudal, drone, dan pengaruh Iran di dekat perbatasannya. Sementara itu, dukungan Iran membantu Houthi meningkatkan kemampuan militernya.
Meski demikian, konflik Yaman tidak semata-mata merupakan perang tidak langsung antara kedua negara tersebut. Persaingan kekuasaan di dalam Yaman, persoalan pemerintahan, serta kepentingan lokal juga berperan besar dalam mempertahankan konflik.
4. Memanfaatkan posisi strategis Yaman
Yaman berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Jalur tersebut menjadi bagian penting perdagangan internasional karena dilalui kapal yang mengangkut energi dan berbagai barang antara Asia, Eropa, serta kawasan lainnya.
Penguasaan wilayah pesisir dan kemampuan menyerang kapal maupun fasilitas strategis memberikan Houthi pengaruh lebih besar dalam konflik regional. Pada 2026, kelompok tersebut dilaporkan memperluas kendali di beberapa wilayah pesisir Laut Merah, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran.
Serangan terhadap Arab Saudi pun tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral kedua pihak. Gangguan terhadap bandara, fasilitas energi, dan jalur pelayaran dapat memengaruhi perjalanan internasional serta stabilitas ekonomi kawasan.
Hingga 13 Oktober 2026, situasi masih tegang dan belum terlihat adanya kesepakatan untuk menghentikan serangan secara menyeluruh.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang menyasar wilayahnya. Negara tersebut juga melakukan penyelidikan mengenai bagaimana sistem pertahanan udaranya gagal mencegah serangan mematikan di Bandara Internasional King Khalid.
Serangkaian serangan tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem peringatan dini bagi warga. Menurut laporan Reuters, otoritas Saudi kembali mengeluarkan peringatan ancaman pada 12 Oktober setelah tidak mengeluarkan peringatan publik selama beberapa hari sebelumnya.
Dampaknya juga terasa pada sektor penerbangan. Qatar Airways pada 13 Oktober mengumumkan penghentian sementara penerbangan dari dan menuju Riyadh serta Dammam karena situasi keamanan. Sejumlah negara juga mengeluarkan imbauan perjalanan atau meningkatkan kewaspadaan bagi warga dan staf diplomatiknya.
Di Yaman, situasi semakin rumit karena serangan udara dan operasi darat kembali meningkat. Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai, sementara pihak koalisi Saudi menyatakan serangan Houthi terhadap warga sipil dan fasilitas sipil akan mendapat respons.
Perkembangan terbaru tersebut berisiko memperluas konflik dan meningkatkan korban sipil di kedua sisi. Klaim dari pihak-pihak yang bertikai juga perlu diperiksa secara independen karena informasi mengenai sasaran, jumlah korban, dan hasil operasi militer dapat berbeda.
Pada tingkat diplomatik, sejumlah negara menyerukan penghentian serangan dan penyelesaian melalui jalur politik. Menteri Luar Negeri Mesir, misalnya, menyerukan agar serangan Houthi terhadap Arab Saudi dihentikan dan mendorong penyelesaian diplomatik. Iran juga menyatakan kesediaannya membantu memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan Yaman.
Sementara itu, kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat secara langsung masih menjadi perhatian. Presiden Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan opsi untuk bergabung dalam operasi Saudi terhadap Houthi, tetapi hingga kini belum mengumumkan keputusan untuk melakukan intervensi langsung.