NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cadek di Baitussalam, Banda Aceh. Sidak ini dilakukan guna memastikan standar operasional prosedur (SOP) higienitas dan keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.
Pantauan NadiKabar di lokasi, Sudaryono tiba pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 04.45 WIB. Kedatangannya mengejutkan para pegawai SPPG yang tengah bertugas mempersiapkan makanan.
Dalam peninjauan tersebut, Sudaryono menyisir langsung setiap sudut fasilitas SPPG. Mulai dari dapur produksi, ruang penyimpanan bahan baku basah dan kering, ruang pengemasan, hingga ruang uji laboratorium tempat sampel makanan diperiksa sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Dia juga mengamati langsung rincian takaran dan nilai gizi pada porsi makanan yang hendak diedarkan.
"Saya datang ke sini bukan untuk marah-marah, gitu nggak. Tapi kita untuk memastikan, menyemangati kamu dan pasukan kita semua yang ada di seluruh Indonesia," kata Sudaryono di lokasi.
Dia memuji kedisiplinan dan kelengkapan operasional yang diterapkan SPPG Cadek. Termasuk kepatuhan pegawai dalam mengenakan masker dan menjaga higienitas pengolahan pangan.
"Tadi kita lihat semua pegawaimu bagus. Jadi nggak ada teguran buat kalian. Jadi saya bukan kok sok otoriter atau berkuasa atau sok marah-marah, nggak. Kami inti memastikan bahwa menyemangati yang kerjanya udah bagus," sambungnya.
Sudaryono menyatakan memang adanya pengetatan aturan kerja di dapur SPPG yang belakangan sempat dikeluhkan sejumlah pekerja di media sosial. Meski begitu, dia menegaskan BGN tidak akan berkompromi terkait keselamatan para penerima manfaat.
"Kami berusaha menempatkan kepentingan penerima manfaat itu menjadi yang paling utama. Konsumen, baik siswa maupun kelompok 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui), keamanan dan kesehatannya adalah nomor satu," ujarnya.
Dia menyebut, saat ini pengawasan operasional SPPG dilakukan secara berjenjang melalui presensi virtual Zoom dua kali sehari, yakni sore hari saat penerimaan bahan baku bersama kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi, serta dini hari pada masa pengolahan dapur sekitar pukul 02.00-03.00 WIB.
Ke depan, lanjut Sudaryono, BGN tengah menggodok cara untuk mengintegrasikan kamera pengawas (CCTV) di seluruh SPPG ke sistem pusat yang didukung kecerdasan buatan (AI).
"Kami sedang upayakan gambarnya dikirim ke pusat dan diberi AI untuk mendeteksi kepatuhan otomatis, apakah pakai masker, apakah sesuai SOP. Sedikit saja ada dapur bermasalah, persepsi publik seolah seluruh dapur demikian. Makanya semua dapur wajib taat," tuturnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Sudaryono mengatakan tujuan dari MBG adalah perbaikan gizi dan pertumbuhan yang baik. Namun, di sisi lain, dia mengklaim MBG terbukti mendongkrak kehadiran siswa di ruang kelas secara agregat nasional.
"Karena impact yang kita inginkan adalah perbaikan gizi, pertumbuhan yang baik, dilihat secara fisik, berat badan, tinggi badan, termasuk juga ada output termasuk kehadiran," ujar Sudaryono.
"Saya harus katakan bahwa kita tidak bisa melihat program MBG ini hanya sekilas dari Jakarta atau dari ibu kota, dari kota atau ibu kota, ibu kota provinsi atau ibu kota nasional kita di Jakarta. Tapi kita melihat secara agregat keseluruhan, ya, bahwa tingkat kehadiran ini juga naik," pungkasnya.