Murata mengatakan kepada pengadilan bahwa ia terdorong melakukan tindakan tersebut setelah "sosok yang menyerupai dewa Jepang menyuruh saya pergi bernegosiasi" dalam mimpinya.
Ia menambahkan bahwa ia berencana untuk berbicara dengan duta besar dan mengakhiri hidupnya sendiri jika ditolak.
"Saya pikir hal itu akan memberikan dampak besar dalam menunjukkan tekad dan betapa kuatnya keyakinan saya," ujarnya.
Murata mengatakan bahwa ia secara pribadi mengimpor dan mengonsumsi obat untuk gangguan panik guna mengatasi kecemasannya di tempat kerja, seraya menambahkan, "Obat tersebut mungkin memengaruhi perilaku dan cara berpikir saya pada saat itu."