"Yang ingin kami katakan adalah, 'Dengar, ini akan berakhir di meja perundingan.' Kita bisa menandatangani kesepakatan sekarang atau 10 bulan lagi. Satu-satunya perbedaan adalah jumlah orang yang tewas dan kehancuran yang kita lihat," kata al-Ansari.

Di tengah pertemuan PBB, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bertemu Trump untuk membahas usulan gencatan senjata terhadap infrastruktur energi Rusia dan Ukraina.

Pertemuan itu berlangsung ketika serangan udara kedua pihak semakin meningkat. Ukraina khawatir Rusia akan kembali menargetkan fasilitas pembangkit listrik dan pemanas menjelang musim dingin.

Zelenskyy mengatakan setelah berbicara dengan Trump melalui telepon pada Minggu (20/9), terdapat "momentum diplomatik" dan gagasan mengenai langkah-langkah deeskalasi.

"Sektor energi Ukraina, infrastruktur kritis, dan ekspor pangan kami harus berhenti menjadi sasaran Rusia, dan ini akan diikuti langkah-langkah deeskalasi yang sepadan dari pihak kami. Solusi dimungkinkan," tulis Zelenskyy di X.

Trump sebelumnya mengatakan Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk tidak menyerang sasaran energi. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama setelah Rusia menyerang stasiun pengisian bahan bakar di Kyiv dan Ukraina menyerang kilang minyak Rusia.

Menurut seseorang yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump meminta Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia sebagai bagian dari upaya deeskalasi.

Namun, Kyiv enggan menghentikan serangan secara sepihak. Ukraina menilai serangan terhadap industri minyak Rusia merupakan salah satu cara untuk menekan Moskow agar kembali ke meja perundingan.

Sementara itu, Trump mengkritik dampak perang terhadap industri minyak Rusia. "Rusia sayangnya telah kehilangan kendali atas industri minyak dieselnya akibat perang dengan Ukraina," tulis Trump di Truth Social. Ia kemudian menambahkan, "Perang yang konyol dan tidak pernah berakhir dengan Ukraina ini harus diakhiri."