Seperti peribahasa 'Sekali mendayung, 2 3 pulau terlampaui', Sido Muncul pun menjadikan kegiatan ini sebagai wadah untuk membantu sesama dan juga mempromosikan produknya, yaitu Tolak Angin dan Kuku Bima.
Irwan juga menjelaskan keberlanjutan usaha tidak semata-mata diukur dari besarnya bisnis, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.
"Kami ingin promosi yang sekaligus membawa manfaat. Jadi, saya menggunakan seluruh kemampuan dana Tolak Angin dan Kuku Bima untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat. Dana yang digunakan pun bukan hanya dari anggaran CSR, tetapi juga dari anggaran iklan," jelas Irwan.
Ia mengatakan kegiatan CSR ini akan terus dilakukan oleh Sido Muncul, sebab katarak adalah penyakit degeneratif. Banyak masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan, tetapi belum mendapatkan akses pengobatan yang memadai.
"Pemerintah memang ada BPJS, tapi tidak semua tercover, dan kami masuk di sela-sela itu. Di situlah kami ingin hadir," tutur Irwan.
Irwan juga berharap para penderita katarak tidak memiliki kekhawatiran dan persepsi negatif mengenai operasi katarak, agar katarak pada mata mereka dapat segera tertangani.
"Kesehatan mata adalah faktor penting penentu kualitas hidup seseorang. Kalau orang itu sudah kehilangan penglihatan, 50 persen kualitas hidupnya hilang. Semoga operasi katarak ini tidak menjadi hal yang menakutkan untuk masyarakat, khususnya para penderita katarak," ucap Irwan