NADIKABAR.COM — Sino-Nusantara Institute bersama The Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) menjaring masukan dari para pakar, akademisi, dan praktisi berbagai bidang untuk persiapan pelaksanaan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 di Tiongkok.
Direktur Sino-Nusantara Institute Ahmad Syaifuddin Zuhri, di Semarang, Jumat, mengatakan peserta dipilih dengan mempertimbangkan kompetensi, pengalaman, serta relevansi keahlian terhadap isu-isu yang dibahas.
Mereka dihadirkan dalam focus group discussion (FGD) bertema "APEC 2026 Shenzhen dan Masa Depan Indonesia–Tiongkok: MenavigasiPeluang di Tengah Ketidakpastian Global".
"FGD ini dimaksudkan sebagai forum pertukaran gagasan, analisis, dan rekomendasi lintas disiplin untuk memperkuat pemahaman mengenaidinamika APEC 2026, serta implikasinya terhadap kepentingan strategis Indonesia, khususnya dalam hubungan ekonomi dengan Tiongkok," katanya.
Untuk ketiga kalinya, Tiongkok akan menjadi tuan rumah APEC 2026 yang diselenggarakan di Shenzen, Provinsi Guangdong, pada 18-19 November 2026.
"Sebelum APEC, kita mengumpulkan dan berdiskusi di FGD ini, salah satu tujuannya untuk saling berdiskusi. Yang kedua adalah bagaimana nanti hasil diskusi ada semacam 'policy brief' atau semacam masukan kebijakan untuk Indonesia," katanya.
Ia mengatakan bahwa APEC 2026 akan mengangkat isu tentang tranformasi digital, ekonomi hijau, hingga kecerdasan buatan (AI).
"Kami membahasnya dari sisi peluang kerja sama Indonesia dan Tiongkok di APEC 2026. Karena topik itu sangat relevan dengan perkembangan Indonesia. Bagaimana transformasi digital itu menjadi peluang ekonomi baru bagi Indonesia," katanya.
Sebagaimana diketahui, kata dia, perkembangan teknologi digital di Tiongkok luar biasa besar, dan menjadi salah satu pelaku utama di dunia terkait transformasi digital.
"Indonesia bisa memanfaatkan di APEC 2026 untuk semakin intens kerjasama dalam transformasi digital. Karena di transformasi digital itu salah satu poinnya adalah Indonesia bisa menawarkan namanya 'co-creation'," katanya.
Ia menjelaskan bahwa "co-creation" adalah kerja sama model baru, yakni bagaimana menciptakan peluang bersama antara satu negara dengan negara lain.
"Kalau model lama itu, kita hanya sebatas pasar potensial, dan lain sebagainya, tetapi 'co-creation' ini model baru. Jadi, Indonesia tidak hanya sebatas pasar, tetapi Indonesia juga menciptakan peluang bersama termasuk adanya 'transfer of knowledge and technology'," katanya.
Menurut dia, Indonesia punya potensi transformasi digital yang cukup besar, apalagi sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.
"Sehingga, potensi ekonomi di bidang digital itu menjadi salah satu kekuatan Indonesia untuk bisa kerja sama dengan Tiongkok," katanya.
Namun, diakuinya bahwa ada tantangan yang dihadapi dalam sektor investasi di Indonesia, yakni birokrasi sebagai tanganan utama, sebagaimana ditemukan dalam beberapa kali riset.
"Kedua, hal-hal yang tidak nampak tetapi berdampak ya. Salah satunya bagaimana berhubungan dengan masyarakat lokal, organisasi masyarakat setempat, termasuk dengan pemimpin pemerintahan yang sangat lokal," katanya.