Rencana tersebut tentu bukan perkara sederhana. Mereka harus mampu bergerak di tengah ribuan orang tanpa menarik perhatian. Situasi festival yang ramai sekaligus menjadi peluang juga menghadirkan risiko tersendiri bagi Ijal dan kawan-kawan.

Di balik aksi nekat tersebut, Operasi Pesta Copet juga menyinggung masalah tekanan ekonomi dan pilihan sulit yang dihadapi masyarakat ketika kebutuhan hidup semakin menghimpit.

Sebelum menggunakan judul Operasi Pesta Copet, film ini lebih dulu diperkenalkan sebagai Operasi Pestapora dalam gelaran Pestapora 2025.

Pergantian judul dilakukan menjelang film memasuki jadwal penayangan. Judul Operasi Pesta Copet dipilih untuk membuat gambaran mengenai cerita film menjadi lebih jelas sekaligus menegaskan aksi utama yang menjadi premisnya.

Imajinari menjadi rumah produksi utama dalam proyek ini, bersama Boss Creator sebagai pemilik hak kekayaan intelektual Pestapora dan Angin Segar.

Operasi Pesta Copet merupakan debut Edy Khemod sebagai sutradara film panjang. Ia juga terlibat sebagai penulis skenario bersama Rino Sarjono.

Ide ceritanya ternyata terinspirasi dari kisah nyata. Sebagai drummer band Seringai, Edy Khemod pernah berhadapan dengan aksi pencopetan di tengah konser.

Saat tampil di Solo, ia dan personel band mendapat informasi mengenai komplotan pencopet yang diduga sengaja datang dari Jakarta untuk beraksi di festival musik.

Komplotan tersebut disebut mempersiapkan aksinya dengan serius. Mereka bahkan menghafalkan lirik lagu dan mengenakan atribut band untuk menyatu dengan penonton, termasuk menyusup ke area moshpit.

Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan cerita tentang pencopet yang menjadikan festival musik sebagai arena operasi mereka.