Salah satu bagian paling menarik dari produksi film ini adalah keputusan untuk mengambil gambar langsung di tengah festival Pestapora.

Produser Ernest Prakasa mengungkapkan bahwa proses syuting dilakukan ketika festival berlangsung dan melibatkan keramaian penonton sungguhan. Jumlah penonton di lokasi bahkan mencapai sekitar 100 ribu orang.

Iqbaal Ramadhan dan para pemain lainnya harus menjalani adegan di tengah sekitar 30 ribu hingga 35 ribu penonton setiap harinya. Kelebihannya, setting film jadi terasa lebih hidup dan nyata.

Di balik aksi pencopetan dan komedinya, Operasi Pesta Copet juga membawa isu sosial. Film ini menyoroti tekanan ekonomi, sulitnya memperoleh pekerjaan, serta kondisi masyarakat kelas marginal yang harus berhadapan dengan kebutuhan hidup.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa karakter-karakter dalam film mengambil keputusan yang berisiko. Aksi pencopetan tidak semata-mata ditampilkan sebagai kejahatan, tetapi juga ditempatkan dalam konteks tekanan sosial dan ekonomi yang melatarbelakanginya.

Untuk membuat adegan pencopetan terlihat meyakinkan, rumah produksi Imajinari mendatangkan pesulap profesional untuk melatih para pemain.

Para aktor menjalani latihan intensif selama sekitar dua bulan untuk mempelajari teknik kecepatan tangan. Latihan tersebut dibutuhkan agar gerakan mengambil barang dapat terlihat cepat, natural, dan meyakinkan ketika direkam kamera.

Kristo Immanuel, yang berperan sebagai Adut, bahkan harus menjalani tes jongkok ketika proses reading. Tes tersebut dilakukan untuk mengukur kekuatan paha sekaligus menyesuaikan karakter dengan gambaran anak tongkrongan pinggiran yang hendak ditampilkan dalam film.

Demikian ulasan mengenai sinopsis film Operasi Pesta Copet, jadwal tayangnya, daftar pemain, hingga fakta-fakta menarik di balik layar. Selamat menonton!