"Dia harus bisa menerjemahkan. Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari," ucapnya.

Hal tersebut disampaikan Rahmawati pada Peluncuran Hasil PISA 2025 di Gedung E Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan hasil PISA 2025, persentase jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika pada hasil PISA 2025 RI baru mencapai 16,93 persen. Rahmawati menjelaskan siswa yang telah sudah kompetensi minimum berarti bisa memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika.

"Karena permasalahan sehari-hari, ini artinya ada informasi, baik dalam bentuk teks, dalam bentuk grafik, dalam bentuk kabel, yang informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan, kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi, sebelum kita memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut," kata Rahmawati.

"Nah ini yang menjadi pekerjaan kita juga," ucapnya.

Di sisi lain, P2G mengapresiasi temuan PISA 2025 bahwa 85 persen siswa RI menilai guru terus mengajar sampai mereka mengerti. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata negara OECD yang sebesar 69%.