NADIKABAR.COM — Skrining psikososial bagi pekerja perlu menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya serta disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan dan karakteristik pekerja yang diperiksa.
"Instrumen yang digunakan dalam skrining psikososial harus tervalidasi reliabilitasnya. Serta dalam penggunaannya tidak bisa berdiri sendiri dan harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan serta karakteristik penggunanya," kata Guru Besar dan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Konsultan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K) dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.
Dewi mengatakan bahwa skrining psikososial pada pekerja memiliki pendekatan yang berbeda dengan masyarakat umum karena faktor pemicu stres atau stressor yang dihadapi tidak sama.
Oleh karenanya, penggunaan kuesioner untuk skrining perlu mempertimbangkan konteks pemeriksaan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Sementara itu, Praktisi Kesehatan Kerja dari SKK Migas dr. Royanul Arief, MM (K3L) menilai skrining psikososial, khususnya di industri minyak dan gas, tidak hanya berkaitan dengan masalah kesehatan mental, tetapi juga aspek keselamatan kerja.